Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Tiga Tahun Berlalu, Ini Kisah Korban Teror Bom Gereja di Samarinda

ilustrasi bom, ilustrasi teroris
ilustrasi bom, ilustrasi teroris

Samarinda, IDN Times -Tiga tahun lalu tepatnya, Ahad pagi 13 November 2016, Gereja Oikumene di Jalan Cipto Mangunkusumo, Kelurahan Sengkotek, Kecamatan Loa Janan Ilir jadi sasaran aksi teror bom molotov.

Pelakunya ialah Juhanda, mantan narapidana bom buku 2011 di Tangerang Selatan. Akibat kejadian itu, empat balita yang bermain di halaman gereja luka-luka.

Mereka adalah Intan Marbun (2,5), Triniti Hutahayan (4), Alfaro Sinaga (5) dan Anita (4). Dari keempat korban teror bom itu, Intan Marbun tak bisa diselamatkan karena luka-luka yang dialaminya.

1. Gereja Oikumene selalu mendapat pengawalan ketat dari pihak berwajib

Keadaan Gereja Oikumene di Kelurahan Sengkotek, Loa Janan Ilir, Samarinda yang menjadi sasaran teror tiga tahun lalu (IDN Times/Yuda Almerio)
Keadaan Gereja Oikumene di Kelurahan Sengkotek, Loa Janan Ilir, Samarinda yang menjadi sasaran teror tiga tahun lalu (IDN Times/Yuda Almerio)

Kini, bulan berbilang tahun, gereja yang dibangun tahun 1981 itu terus dijaga oleh pihak yang berwajib. Terutama saat aktivitas keagamaan seperti ibadah Minggu. Tak terkecuali 24-25 Desember. Saat ibadah malam Natal dan ibadah Natal. Pun demikian saat ibadah malam pergantian tahun hingga ibadah Tahun Baru.

Lazimnya sehari sebelum pelaksanaan ibadah sterilisasi dilakukan termasuk 25 Desember lalu. Hal tersebut dilakukan di sejumlah gereja di Kota Tepian, tak hanya di Gereja Oikumene yang berada di pinggiran Samarinda.

"Langkah ini diambil demi menghindari hal-hal tak diinginkan," kata Kapolresta Samarinda Kombes Pol Arief Budiman.

2. Korban teror bom sudah bisa bernyanyi dan bermain drum

(ilustrasi bom) IDN Times/Sukma Shakti
(ilustrasi bom) IDN Times/Sukma Shakti

Sementara itu, salah satu korban aksi teror tiga tahun lalu yakni Marsyana Tiur Novita yang merupakan ibu dari Alfaro Aurelius Tristan saat dikonfirmasi mengatakan, saat ini kondisi Alfaro semakin membaik. Setiap ibadah Minggu, dia terkadang bernyanyi di altar menyumbangkan suaranya.

"Dia memang suka bernyanyi, terkadang juga main drum," ucap Marsya pada Ahad (29/12).

Tiga tahun pasca teror, dirinya selalu awas dengan kondisi psikologis anaknya. Maklum, saat kali pertama keluar dari rumah sakit dan jalani masa pemulihan di rumah tiba-tiba saja Alfaro teriak lalu menangis.

Itu sebabnya, dirinya tak pernah lelah mengobati trauma anaknya hingga sembuh dari luka akibat teror bom molotov. Ia pun selalu berdoa agar hal tersebut tak terulang kembali.

"Dia (Alfaro) sekarang sudah tujuh tahun dan sekolah, rasa takut serta trauma sudah hilang sedikit," terangnya.

3. Rasa cemas selalu ada walau gereja dijaga petugas

Ilustrasi Bom Ledakan
Ilustrasi Bom Ledakan

Rasa trauma berbalut cemas tak hanya terjadi dengan Alfaro, tapi sang ibu, Marsya juga merasakan. Wajar demikian sebab hal tersebut belum pernah terjadi sebelumnya. Ketika ibadah rasa waswas kerap menghantui, lebih-lebih jika mendengar suara motor yang lewat depan gereja atau yang masuk halaman gereja.

"Petugasnya memang menjaga tapi tetap saja cemas," akunya.

Sementara itu Pendeta Freddy Saputra yang melayani di Gereja Oikumene mengatakan, tiga tahun lalu semenjak kejadian kelam itu trauma para jemaat perlahan-lahan menghilang. Itu semua berkat penyertaan Tuhan dan dukungan dari masyarakat Samarinda. Dia juga berpesan agar selalu optimistis menghadapi segala sesuatu termasuk perbedaan dan keberagaman.

"Beda suku bangsa dan ras bukan hambatan untuk bersahabat antara satu dengan lainnya," pungkasnya.

Baca artikel menarik lainnya di IDN Times App, unduh di sini http://onelink.to/s2mwkb

Share
Topics
Editorial Team
Yuda Almerio
EditorYuda Almerio
Follow Us

Latest News Kalimantan Timur

See More

Artikel kaltim

04 Nov 2025, 15:43 WIBNews