Sementara itu pedagang sapi lainnya, Misno dari gerai sapi dan kambing Restu Ibu Sinar Abadi di Jalan AW Sjahranie mengatakan hal senada, bila 2019 penjualan hewan kurban sepi peminat. Tahun lalu mendekati Iduladha, penjualan sapinya nyaris menyentuh 200 ekor penjualan.
“Tahun ini hanya 85 ekor saja dalam tiga minggu, biasanya lebih,” sebutnya.
Sejak 1999, Misno menekuni bisnis jual-beli sapi. Lokasinya pun tak pernah pindah dari Jalan AW Sjahranie. Sapi-sapi yang dijualnya berasal dari Kupang, Nusa Tenggara Timur kemudian Sulawesi. Sementara jenisnya ialah limousine, bali, ongole sumba dan simetal.
Sebelum memulai bisnis jual ternak, dia adalah pengusaha kontraktor. Lantaran merasa berjualan sapi lebih menguntungkan, maka dia banting setir.
“Untuk surat-suratnya selalu lengkap, sebab sapi-sapi yang dimilikinya di karantina sebelum dikirim ke Samarinda. Tak hanya itu, sertifikat kelaikan juga ada,” jelasnya.
Misno menerangkan sapi-sapi yang dijualnya beragam dari sisi berat dan harga. Nilai untuk satu sapi dengan berat 55-60 kilogram (kg) Rp14 juta. Paling mahal itu limousine harganya bisa mencapai Rp 70 juta. Sapi yang dijual di tokonya punya kualitas bagus, harganya pun belum berubah dari tahun lalu dan lengkap dengan sertifikat. “Jadi warga tak perlu khawatir,” pungkasnya.