Rancangan itu dianggap Presiden Soekarno sebagai bentuk imperialisme baru. Konflik empat tahun itu menelan ratusan korban di antara kedua belah pihak. Malaysia ketika itu bersekutu dengan Britania Raya, Selandia Baru, Australia, Kanada dan Fiji sementara Indonesia berkawan dengan Filpina dan Uni Soviet.
"Saya ingat benar waktu itu 1964, kali pertama memegang senapan LE (Lee-Enfield). Kami dibawakan oleh tentara Indonesia, untuk menjaga perbatasan," sebutnya.
Kata dia, ketika itu Indonesia, benar-benar serius mempertahankan kawasan perbatasan. Biar tak ada penyusup asing yang masuk. Setidaknya masuk tahun ketiga konfrontasi Malaysia-Indonesia, ada tiga batalion yang membantu Ajan dan kawan-kawannya. Lazimnya satu batalion berisikan 300-1000 tentara.
"Kami makin semangat saat itu mempertahankan wilayah Indonesia," tegasnya. "Syukurnya ketika itu, tak banyak pertempuran yang dialami sebab penyusup tak berani," ujar Ajan.
Dalam buku Britain and the Confrontation with Indonesia, 1961-1965, karangan D. Easter disebutkan bila konflik itu berakhir itu pada 28 Mei 1966 dengan konferensi di Bangkok. Kesepakatan damai Malaysia dan Indonesia ditandatangani pada 11 Agustus pada tahun yang sama.