Duo Jambret 20 Kali Beraksi, Perempuan Jadi Sasaran
Samarinda, IDN Times - Unit Reskrim Polsek Samarinda Seberang terus melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap kasus duo jambret yang ditangkap pada Selasa (13/8) lalu.
Keterangan yang diperoleh dari dua tersangka, Junaidi (25) dan Mahendra Saputra (21) terus dikembangkan. Polisi curiga keduanya masih punya rekan kerja yang lain. "Saat diinterogasi, keterangan keduanya kerap berubah-rubah. Makanya kami terus kejar," kata Kanit Reskrim Polsek Samarinda Seberang, Iptu Teguh Wibowo.
Modus terbilang klasik, lanjutnya, yakni mengawasi calon korban. Perempuan adalah sasaran paling mereka incar. Mereka selalu mencari lokasi yang sepi ketika malam atau petang, seperti di Jalan Banggeris, Jalan Siradj Salman, Jalan Anggur, Jalan Tengkawang dan lain-lain. "Karena itu perempuan di Samarinda harus waspada jika pulang terlalu larut," sarannya.
1. Kedua tersangka masih saudara kandung
Teguh melanjutkan, dari keterangan yang dihimpun, Juna menjadi pengemudi motor sementara Mahendra bertugas mengambil tas korban. Sebagian besar dengan cara paksa. Pisau cutter adalah senjatanya. Keduanya sama-sama memerlukan uang. "Juna dan Mahendra masih saudara kandung," bebernya.
Kepada sejumlah media, Mahendra meminta maaf yang sebesar-besarnya. Ia mengakui penjambretan yang dilakukannya atas dorongan ekonomi. Uangnya dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, narkoba dan miras.
"Saya khilaf," ujarnya singkat kemudian tertunduk. Berbeda dengan saudaranya, Juna yang lebih banyak diam. Namun saat pemuda kelahiran 1994 itu bicara, semua wartawan sempat tertawa. Dia menyebut pernah sial ketika menjambret. "Saya sempat dapat pembalut bekas, Mas," akunya lalu terkekeh.
2. Meniru teknik merampas dari orang lain di video
Dari keterangan yang diperoleh dari kepolisian, Juna dan Mahendra biasanya menunda aksi selama beberapa bulan sebelum kembali menjambret. Aksi mereka pada 11 Agustus lalu adalah yang keduapuluh kali.
Sebelumnya keduanya sempat vakum selama enam bulan. Mahendra mengaku, sebelumnya tak tahu cara menjambret. Lantas dari mana dia mempelajari tekniknya? Boleh jadi dia punya mentor yang memberinya ilmu. "Saya enggak ada yang ajari, cuma mencontoh orang lain saja dari video," akunya.
Nekat menjadi modal utama keduanya saat hendak beraksi. Bahkan tak jarang memilih menenggak minuman beralkohol agar lebih berani.
"Saya harus minum (beralkohol) dulu Mas, kalau enggak minum, enggak bisa kerja," pungkasnya kemudian berlalu menuju jeruji besi Polsek Samarinda Seberang. Keduanya tampak tertatih-tatih karena luka dari akibat timah panas yang ditembakkan polisi saat mereka hendak kabur.

















