Menanggapi itu, Ayunda Ramadhani Psikolog Klinis menuturkan bila crosshijaber bukan hal baru. Hanya saja namanya yang berbeda. Menurut Beemyn BG dalam Cross-Dressing, penyimpangan itu punya nama asli cross-dressing (berlintas busana), yaitu seseorang yang berperilaku berbeda dari gendernya sendiri
Istilah tersebut berkaitan dengan transvetisisme, dimana hasrat seks terpenuhi tatkala menggunakan baju berbeda gender. Fenomena tersebut bukan sesuatu yang baru dalam dunia psikologi, bahkan sejak zaman dahulu penyimpangan itu sudah terjadi.
Hagedorn SC dalam bukunya Abandoned Women: Rewriting the Classics in Dante, Boccaccio, and Chaucer mencontohkan tokoh Achilles dalam Perang Troya yang dipakaikan baju perempuan oleh ibunya, Thetis, agar terhindar dari perang
Sementara Bulman CJ dalam The Merchant of Venice mencatat William Shakespeare dalam sandiwara berjudul The Merchant of Venice menceritakan tokoh Portia yang berlintas busana sebagai pria agar dapat berbicara di pengadilan.
Ini membuktikan cross-dressing ini sudah lama dikenal di dunia. Fakta cross-dressing ini sebagian besar yang melakukan adalah pria.
"Namun yang perlu diperhatikan adalah perilaku tersebut murni gangguan identitas diri, mencari popularitas atau memang punya niat jahat yang mengarah ke tindakan kriminal," terangnya lalu menambahkan, tapi harus liat konteks juga.
Jangan sampai semua dihantam rata, "Mereka yang terganggu itu yang harus ditolong."